Minggu, 20 Maret 2016

MASALAH SOSIAL !


MASALAH SOSIAL
A.    Pengertian Masalah Sosial
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian dari kata masalah adalah persoalan, sesuatu yang harus diselesaikan. Sedangkan kata sosial adalah berkenaan dengan khalayak, dengan masyarakat, dengan umum.
Masalah Sosial adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan atau sebagai kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang seharusnya (Jenssen, 1992).[1] Masalah sosial dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai sesuatu kondisi yang tidak diharapkan.[2]
Acap kali dibedakan antara dua macam persoalan yaitu antara masalah masyarakat (Scientific or Social Problems) dengan problema sosial (ameliorative or social problems).[3] Masalah masyarakat menyangkut analisis tentang macam-macam gejala kehidupan masyarakat, sedangkan problema sosial meneliti gejala-gejala abnormal masyarakat dengan maksud untuk memperbaiki atau bahkan untuk menghilangkannya. Sosiologi menyelidiki persoalan-persoalan umum dalam masyarakat dengan maksud untuk menemukan dan menafsirkan kenyataan-kenyataan kehidupan kemasyarakatan. Sementara itu, usaha-usaha perbaikannya merupakan bagian dari pekerjaan sosial (social work). Dengan kata lain, sosiologi berusaha untuk memahami kekuatan-kekuatan dasar yang berada dibelakang tata kelakuan sosial. Pekerjaan sosial berusaha untuk menanggulangi gejala-gejala abnormal dalam masyarakat, atau untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.
Masalah sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral. Masalah tersebut merupakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Oleh sebab itu, masalah-masalah sosial tak akan mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Sosiologi menyangkut teori yang hanya dalam batas tertentu menyangkut nilai-nilai sosial dan moral, yang terpokok adalah aspek ilmiahnya.
Menurut Soerjono Soekanto, masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada, dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.[4]
Menurut Kartini Kartono, Masalah-masalah sosial pada hakikatnya juga merupakan fungsi-fungsi struktural dan totalitas sistem sosial, yaitu berupa produk atau konsekuensi yang tidak diharapkan dari suatu sistem sosio kultural.[5]
Sedangkan menurut Abu Ahmadi, Masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh setiap masyarakat manusia tidaklah sama antara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya, dan keadaan lingkungan alam nya dimana masyarakat itu hidup. Masalah-masalah tersebut dapat terwujud sebagai: masalah sosial, masalah moral, masalah politik, masalah ekonomi, masalah agama, atau masalah-masalah lainnya.
Yang membedakan masalah-masalah sosial dari masalah-masalah lainnya adalah bahwa masalah-masalah sosial selalu ada kaitannya yang dekat dengan nilai-nilai moral dan pranata-pranata sosial, serta selalu ada kaitannya dengan hubungan-hubungan manusia dan dengan konteks-konteks normatif dimana hubungan-hubungan manusia itu terwujud (Nisbet, 1961)
Pengertian masalah sosial ada dua pengertian:[6]
1.      Menurut umum atau warga masyarakat bahwa segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum adalah masalah sosial.
2.      Menurut para ahli masalah sosial adalah suatu kondisi atau perkembangan yang terwujud dalam masyarakat yang berdasarkan atas studi mereka mempunyai sifat yang dapat menimbulkan kekacauan terhadap kehidupan warga masyarakat secara kesuluruhan.
B.     Kemunculan Masalah Sosial
1.      Sebagai akibat dari Perubahan Sosial
Perubahan demografi (pertumbuhan atau pengurangan atau perubahan dalam susunan penduduk), perubahan ekologi (perubahan dalam relasi antara (penduduk dengan lingkungannya), perubahan kultural (perubahan dalam relasi untuk memproduksi hasil ciptaan manusia, termasuk perubahan teknologi, dan perubahan struktur (perubahan organisasi dan relasi-relasi sosial). Perubahan-perubahan yang alami umumnya tidak banyak mendapatkan sorotan atau tanggapan karena dianggap wajar. Sedangkan perubahan yang terencana sering menimbulkan kritik tajam bila tidak menemukan apa yang diharapkan atau timbulnya masalah sosial akibat tidak sesuainya harapan dan kenyataan.[7]
2.      Sebagai akibat dari Pembangunan Sosial
Pembangunan sosial adalah suatu proses perubahan sosial yang terencana dan dirancang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sebagai suatu keutuhan, dimana pembangunan ini dilakukan untuk saling melengkapi dengan dinamika proses pembangunan ekonomi. Namun, ketika proses perubahan ini tidak berjalan sesuai dengan rencana, maka tujuan dari pembangunan ini tidak akan terwujud, yang kemudian dapat menimbulkan masalah sosial bagi masyarakat yang menjadi target pembangunan ini.[8]
C.     Karakteristik Masalah Sosial
Karakteristik masalah sosial menurut Edi Suharto, diantaranya adalah:[9]
1.      Kondisi yang dirasakan banyak orang.
Suatu masalah baru dapat dikatakan sebagai masalah sosial apabila kondisinya dirasakan oleh banyak orang. Namun,tidak ada batasan mengenai berapa jumlah orang yang harus yang harus merasakan masalah tersebut. Jika suatu masalah mendapat perhatian dan pembicaraan yang lebih dari satu orang, masalah tersebut adalah masalah sosial.
2.      Kondisi yang dinilai tidak menyenangkan.
Menurut paham hedonisme, orang cenderung mengulang sesuatu yang menyenangkan dan menghindari sesuatu yang tidak mengenakkan. Orang senantiasa menghindari masalah, karena masalah selalu tidak menyenangkan. Penilaian masyarakat sangat menentukan suatu masalah dapat dikatakan sebagai masalah sosial.
3.      Kondisi yang menuntut perpecahan.
Suatu kondisi yang tidak menyenangkan senantiasa menuntut pemecahan. Umumnya, suatu kondisi dianggap perlu dipecahkan jika masyarakat menganggap masalah tersebut perlu dipecahkan. Pada waktu lalu, masalah kemiskinan tidak dikategorikan sebagai masalah sosial, karena waktu itu masyarakat menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang alamiah dan masyarakat belum mampu memecahkannya. Sekarang, setelah masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggulangi kemiskinan, kemiskinan ramai diperbicangkan dan diseminarkan, karena dianggap sebagai masalah sosial.
4.      Pemecahan masalah tersebut harus diselesaikan melalui aksi secara kolektif.
Masalah sosial berbeda dengan masalah individual. Masalah individual dapat diatasi secara individual, tetapi masalah sosial hanya dapat diatasi melalui rekayasa sosial seperti aksi sosial, kebijakan sosial atau perencanaan sosial, karena penyebab dan akibatnya bersifat multidimensional dan menyangkut banyak orang.

D.    Upaya Pengendalian Masalah Sosial
Menurut Paul B.Horton. Chester L. Hunt ada dua Upaya Pengendalian masalah sosial, yaitu:[10]
1.      Sosialisasi
Fromm (1994) menyatakan bahwa jika suatu masyarakat ingin berfungsi secara efisien, maka anggotanya harus memiliki sifat yang membuat mereka ingin berbuat sesuai dengan apa yang harus mereka lakukan sebagai anggota masyarakat. Mereka harus menghentikan kegiatan mereka secara obyektif perlu mereka melakukan. Orang dapat dikendalikan dengan mensosialisasikannya kepada mereka, sehingga mereka menjalankan peran sesuai dengan apa yang diharapkan.

2.      Tekanan Sosial

Ketika seseorang mengalami tekanan keinginan dari sebuah masalah maka ini adalah sebuah proses yang berkisinambungan dan sebagian besar berlangsung tanpa disadari, seseorang memilih menjadi seorang petani kecil, dan kemudian hanya berpandangan tentang partai Republik yang baik, namun berbeda ketika Dia mengalami tekanan dari partai ini, maka Ia akan memiliki haluan yang berbeda dengan pandangannya sebelumnya. Hal ini akan sama saat keadaan dilakukannya penekanan pada masalah sosial melalui perubahan paradigma terhadap masalah tersebut.

E.     Klasifikasi Masalah Sosial dan Sebabnya-sebabnya
Masalah sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor-faktor ekonomis, biologis, biopsikologis dan kebudayaan.[11] Setiap masyarakat mempunyai norma yang bersangkut paut dengan kesejahteraan kebendaan, kesehatan fisik, kesehatan mental, serta penyesuaian diri individu atau kelompok sosial. Penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma tersebut merupakan gejala abnormal yang merupakan masalah sosial. Sesuai dengan sumber-sumbernya tersebut, masalah sosial dapat diklasifikasikan dalam empat kategori diatas. Problem-problem yang berasal dari faktor ekonomis antara lain kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya. Penyakit, misalnya, bersumber dari faktor biologis. Dari faktor psikologis timbul persoalan seperti penyakit syaraf (neurosis), bunuh diri, disorganisasi jiwa dan seterusnya. Sementara itu, persoalan yang menyangkut perceraian, kejahatan, kenakalan anak-anak, konflik rasial dan keagamaan bersumber pada faktor kebudayaan.
Sudah tentu, acapkali suatu masalah dapat digolongkan ke dalam lebih dari satu kategori. Misalnya, kemiskinan mungkin merupakan akibat berjangkitnya penyakit paru-paru yang merupakan faktor biologis atau sebagai akibat dari jiwa yang bersumber pada faktor psikologis. Atau dapat pula bersumber pada faktor kebudayaan, yaitu karena tidak adanya lapangan pekerjaan dan seterusnya.
Klasifikasi yang berbeda mengadakan pengolahan atas dasar kepincangan-kepincangan dalam warisan fisik (physical heritage), warisan biologis, warisan sosial, dan kebijaksanaan sosial. Di dalam kategori pertama dapat dimasukkan masalah sosial yang disebabkan adanya pengurangan atau pembatasan-pembatasan sumber alam. Kategori kedua mencakup persoalan-persoalan penduduk, misalnya, bertambah atau berkurangnya penduduk, pembatasan kelahiran, migrasi dan sebagainya. Persoalan-persoalan seperti misalnya depresi, pengangguran, hubungan minoritas dengan mayoritas, pendidikan, politik, pelaksanaan hukum, agama, pengisian waktu-waktu terluang, kesehatan masyarakat dan seterusnya termasuk golongan kategori warisan sosial. Di dalam kebijaksanaan sosial dapat dimasukkan hal-hal seperti misalnya, perencanaan ekonomi, perencanaan sosial dan lain sebagainya.
Klasifikasi yang terakhir tersebut diatas memiliki daya cakup yang lebih luas daripada klasifikasi yang pertama. Akan tetapi, suatu persoalan tertentu tidak selalu merupakan bagian dari satu kategori yang tertentu pula. Suatu perencanaan ekonomis misalnya, menyangkut soal penduduk, sumber alam, pendidikan dan seterusnya. Masalah perpindahan yang terlalu cepat, misalnya, dapat disebabkan karena adanya kebijaksanaan sosial yang baru sehubungan dengan adanya kemajuan-kemajuan di bidang teknologi. Hubungan antara aspek-aspek tersebut selalu ada karena aspek-aspek dalam masyarakat, di dalam keadaan yang wajar, merupakan suatu integrasi yang mempunyai hubungan yang saling memengaruhi.
F.      Beberapa Masalah Sosial
Kepincangan-kepincangan yang dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat tergantung dari sistem nilai sosial masyarakat tersebut. Akan tetapi, ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat yang pada umumnya sama, yaitu misalnya sebagai berikut:
1.      Kemiskinan
Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental, maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.
2.      Kejahatan
Berdasarkan sosiologi, kejahatan disebabkan karena kondisi-kondisi dan proses-proses sosial yang sama, yang menghasilkan perilaku-perilaku sosial lainnya. Analisis terhadap kondisi dan proses-proses tersebut menghasilkan dua kesimpulan, yaitu pertama, terdapat hubungan antara variasi angka kejahatan dengan variasi organisasi-organisasi sosial dimana kejahatan tersebut terjadi. Tinggi rendahnya angka kejahatan berhubungan erat dengan bentuk-bentuk dan organisasi-organisasi sosial dimana kejahatan tersebut terjadi. Maka angka-angka kejahatan masyarakat, golongan-golongan masyarakat dan kelompok-kelompok sosial mempunyai hubungan dengan kondisi-kondisi dan proses-proses. Misalnya gerak sosial, persaingan serta pertentangan kebudayaan, ideologi politik, agama, ekonomi, dan seterusnya.
Kedua, para sosiolog berusaha untuk menentukan proses-proses yang menyebabkan seseorang menjadi penjahat. Analisis ini bersifat sosial psikologis. Beberapa ahli menekankan pada beberapa bentuk proses seperti imitasi, pelaksanaan peranan sosial, asosiasi diferensial, kompensasi, identifikasi, konsepsi diri pribadi (self-conception), dan kekecewaan yang agresif sebagai proses-proses yang menyebabkan seseorang menjadi penjahat. Sehubungan dengan pendekatan sosiologis tersebut di atas, dapat diketemukan teori-teori sosiologis tentang perilaku jahat.
3.      Disorganisasi Keluarga
Disorganisasi Keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai suatu unit karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya.
4.      Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern
Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang berlawanan, yakni keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme, delinkuensi dan sebagainya) dan sikap yang apatis (misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua). Sikap melawan mungkin disertai dengan suatu rasa takut bahwa masyarakat akan hancur karena perbuatan-perbuatan menyimpang. Sementara itu, sikap apatis biasanya disertai dengan rasa kecewa terhadap masyarakat. Generasi muda biasanya menghadapi masalah sosial dan biologis. Apabila seseorang mencapai usia remaja, secara fisik dia telah matang, tetapi untuk dapat dikatakan dewasa dalam arti sosial masih diperlukan faktor-faktor lainnya. Dia perlu belajar banyak mengenai nilai dan norma-norma masyarakatnya. Pada masyarakat bersahaja hal itu tidak menjadi masalah karena anak memperoleh pendidikan dalam lingkungan kelompok kekerabatan. Perbedaan kedewasaan sosial dengan kematangan biologis tidak terlalu mencolok; posisinya dalam masyarakat antara lain ditentukan oleh usia.
5.      Peperangan
Peperangan mungkin merupakan masalah sosial paling sulit dipecahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Masalah peperangan berbeda dengan masalah sosial lainnya karena menyangkut beberapa masyarakat sekaligus sehingga memerlukan kerja sama internasional yang hingga kini belum berkembang dengan baik. Perkembangan teknologi yang pesat semakin memodernisasikan cara-cara berperang dan menyebabkan pula kerusakan-kerusakan yang lebih hebat ketimbang masa-masa lampau.
6.      Pelanggaran terhadap Norma-norma masyarakat.
a.       Pelacuran
Pelacuran dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapat upah.
b.      Delinkuensi Anak-anak
Delinkuensi anak-anak meliputi pencurian, perampokan, pencopetan, penganiayaan, pelanggaran susila, penggunaan obat-obat perangsang, dan mengendarai mobil (atau kendaraan bermotor lainnya) tanpa mengindahkan norma-norma lalu lintas.
c.       Alkoholisme
Masalah alkoholisme dan pemabuk pada kebanyakan masyarakat pada umumnya tidak berkisar pada apakah alkohol boleh atau dilarang dipergunakan. Persoalan pokoknya adalah siapa yang boleh menggunakannya, dimana, kapan, dan dalam kondisi yang bagaimana.
d.      Homoseksualitas
Secara sosiologis, homoseksual adalah seseorang yang cenderung mengutamakan orang yang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual. Homoseksualitas merupakan sikap-tindak atau pola perilaku para homoseksual. Pria yang melakukan sikap-tindak demikian disebut homoseksual, sedangkan lesbian merupakan sebutan bagi wanita yang berbuat demikian.
7.      Masalah Kependudukan
Penduduk suatu negara, pada hakikatnya merupakan sumber yang sangat penting bagi pembangunan sebab penduduk merupakan subjek serta objek pembangunan. Salah satu tanggung jawab utama negara adalah meningkatkan kesejahteraan penduduk serta mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap gangguan kesejahteraan. Kesejahteraan penduduk ternyata mengalami gangguan oleh perubahan-perubahan demografis yang seringkali tidak dirasakan.
8.      Masalah Lingkungan Hidup
Apabila seseorang membicarakan lingkungan hidup, biasanya yang dipikirkan adalah hal-hal atau segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik sebagai individu maupun dalam pergaulan hidup.




[1] Edi Suharto. Pembangunan, Kebijakan Sosial,& Pekerja Sosial. (Bandung: LSP STKS,1997) Hal 153
[2] Edi Suharto. Kebijakan sosial. (Bandung: Alfabeta 2011)Hal 10
[3] Samuel Koenig, Man and Society, the Basic Teaching of Sociology, (New York: Barners & Noble Inc. 1957), hlm 302.
[4] Soerjono Soekanto.Sosiologi Suatu Pengantar.(Jakarta: Rajawali Pers, 2010) hal. 309.
[5] Kartini Kartono.Patologi Sosial.(Jakarta:PT Raja Grafindo,2005)hal 4.
[6] Abu Ahmadi,dkk.ILMU SOSIAL DASAR.(Jakarta:PT Rineka Cipta,2009) hal:12-13.
[7] T.Sumarnonugroho. Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial. (Yogyakarta: PT.Hanindita,1987) Hal 84,85
[8] Isbandi Rukminto A. Intervensi Komunitas Pengembangan Masyarakat sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat.( Jakarta: PT.Rajawali Pers,2008) Hal 51.

[9] Edi Suharto. Pembangunan, Kebijakan Sosial,& Pekerja Sosial. (Bandung: LSP STKS,1997)Hal 154,155
[10] Paul B.Horton. Chester L. Hunt. Sosiologi. (Jakarta: ERLANGGA,1987) Hal 177,178

[11] Soerjono Soekanto.Sosiologi Suatu Pengantar.(Jakarta: Rajawali Pers,2010) hal.314-315.

Kamis, 12 November 2015

"TEKHNIK ANALISIS DATA" (METODOLOGI PENELITIAN SOSIAL)


METODOLOGI PENELITIAN SOSIAL
“TEKHNIK ANALISIS DATA”
A.    Pengertian Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dan memerlukan ketelitian serta kekritisan dari peneliti. Pola analisis mana yang akan digunakan, apakah analisis statistic atau non statistic perlu dipertimbangkan oleh peneliti.[1]
Pada prinsipnya, pengolahan data atau analisis data ada dua cara, hal ini tergantung dari datanya, yaitu:
1.      Analisis non statistic
2.      Analisis statistic
Analisis non statistic dilakukan terhadap data yang bersifat kualitatif, biasanya berupa studi literer atau studi empiris. Dalam hal ini penelitian kualitatif mengajak seseorang untuk mempelajari sesuatu masalah yang ingin diteliti secara mendasar dan mendalam sampai ke akar-akarnya. Masalah dilihat dari berbagai segi. Data yang dikumpulkan bukanlah secara random (mekanik), tetapi di kuasai oleh pengembangan hipotesis. Apa yang ditemukan pada suatu saat adalah satu pedoman yang langsung terdapat apa yang akan dikumpulkan berikutnya dan dimana akan dicari.
Sedangkan analisis statistic berangkat dari data yang bersifat kuantitaif. Model analisis yang digunakan harus relevan dengan:
1.      Jenis data yang akan di analisis,
2.      Tujuan penelitian
3.      Hipotesis yang akan di uji
4.      Rancangan penelitiannya
Setiap jenis, model, atau rumus statistic yang digunakan untuk menganalisis data mendasarkan adanya asumsi-asumsi yang harus di penuhi.
Pada umumnya, statistic dibagi dua, yaitu 1) statistic deskriptif dan 2) statistic inferensial. Analisis statistic deskriptif biasanya dipergunakan kalau tujuan penelitiannya untuk penjajagan atau pendahuluan, tidak menarik kesimpulan, hanya memberikan gambaran atau deskripsi tentang data yang ada. Analisis statistic inferensial dipergunakan jika peneliti akan memberikan interpretasi mengenai data atau ingin menarik kesimpulan dari data yang dihasilkan.
Dalam menganalisis data, data harus segera di analisis setelah dikumpulkan dan dituangkan dalam bentuk laporan lapangan. Tujuan analisis data ialah untuk mengungkapkan: a) data apa yang masih perlu dicari, b) hipotesis apa yang perlu di uji, c) pertanyaan apa yang perlu dijawab, d) metode apa yang harus digunakan untuk mendapatkan informasi baru, dan e) kesalahan apa yang harus segera diperbaiki.[2]
B.     Langkah-langkah analisis data
Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi 3 langkah yaitu:
·         Persiapan
·         Tabulasi
·         Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian[3]
1.      Persiapan
Kegiatan dalam persiapan ini antara lain:
1.      Mengecek nama dan kelengkapan idenititas pengisi. Apalagi, instrumennya anonym, perlu sekali di cek sejauh mana atau identitas apa saja yang sangat dipelukan bagi pengolahan data lebih lanjut.
2.      Mengecek kelengkapan data, artinya mengisi instrument pengumpulan data (termasuk pula kelengkapan lembaran instrument barangkali ada yang terlepas atau sobek). Apabila ternyata ada kekurangan isi atau halaman, maka perlu dikembalikan atau di ulang ke kancah. Bagi instrument yang anonym dan tidak mungkin dikembalikan kepada pengisi tentu saja agak merepotkan karena keadaan ini menyebabkan kekurangan responden. Untuk memperoleh responden yang cukup, peneliti harus mengumpulkan data lagi dengan mencari responden baru yang masih dalam wilayah populasi.
3.      Mengecek macam isian data. Jika di dalam instrument termuat sebuah atau beberapa item yang di isi “tidak tahu” atau isian lain bukan yang dikehendaki peneliti. Padahal isian yang diharpakan tersebut merupakan variable pokok, maka item peru di drop.
Contoh:
Sebagian dari penelitian kita dimaksudkan untuk melihat hubungan antara pendidikan orang tua dengan prestasi belajar murid. Setelah angket kembali dan isiannya kita cek, beberapa murid mengisi tidak tahu pendidikan orang tuanya, sebagian jawabannya meragukan dan sebagaian lain dikosongkan. Dalam keadaan seperti ini maka maksud mencari hubungan pendidikan orang tua dengan prestasi belajar lebih baik diurungkan saja, dalam arti itemnya didrop, dan dihilangkan dari analisis.
Apa yang dilakukan dalam langkah persiapan ini adalah memilih/menyortir data sedemikian rupa sehingga hanya data terpakai saja yang tinggal. Langkah persiapan bermaksud merapikan data agar bersih dan rapi tinggal mengadakan pengelolaan lanjutan atau menganalisis.
Bagi peneliti yang tidak berkecimpung dalam dunia pendidikan sebetulnya dapat saja menggunakan penjelasan-penjelasan ini sebagai contoh saja dan kasus dan variabelnya dapat diganti sesuai dengan judul dan masalah penelitiannya. Sebagai contoh kalau dalam uraian baru saja di sampaikan ini mengenai latar belakang pendidikan orang tua prestasi belajar siswa, yang menunjukkan adanya hubungan sebab akibat maka kasusnya dapat diganti dengan kariyawan dengan kinerjanya. Untuk bidang menajemen, mungkin antara latar belakang pendidikan atau pengalaman manajer dengan kemampuan memimpin bawahan. Demikian juga sesudah sampai pada cara mengklasifikasikan data dalam tabulasi, dapat disesuaikan dengan peringkat atau kelompok data yang dikumpulkan.
2.      Tabulasi
G.E.R. Buroughas mengemukakan klasifikasi analisis data sebagai berikut.
1. Tabulasi Data (The Tabulation of the Data)
2. Penyimpulan data (The Summarizing of the Data)
3. Analisis data untuk tujuan testing hipotesis
4. Analisis data untuk tujuan penarikan kesimpulan

Termasuk ke dalam kegiatan tabulasi ini antara lain:
1.      Memberikan skor (Scoring) terhadap item-item yang perlu diberi skor. Misalnya Tes, angket bentuk pilihan ganda, ratin scale, dan sebagainya.
2.      Memberikan kode terhadap item-item yang tidak diberi skor.
3.      Mengubah jenis data, disesuaikan atau dimodifikasikan dengan teknik analisis yang akan digunakan.
4.      Memberikan kode (coding) dalam hubungan dengan pengolahan data jika akan menggunakan computer. Dalam hal ini pengolah data memberikan kode pada semua variable, kemudian mencoba menemukan tempatnya di dalam coding sheet (coding form), dalam kolom beberapa baris ke berapa. Apabila akan dilanjutkan, sampai kepada petunjuk penempatan setiap variable pada kartu kolom (punc cord).
3.      Penerapan Data Sesuai dengan Pendekatan Penelitian
Maksud rumusan yang dikemukakan dalam hal ini adalah pengolahan data yang diperoleh dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan-aturan yang ada, sesuai dengan pendekatan penelitian atau desain yang di ambil.
Untuk mempermudah cara mengikuti uraian pengolahan data, akan di sajikan dengan sistematika yang telah disajikan dengan sistematika yang telah dikemukakan. Ada empat jenis problematic atau permasalahan yang diajukan:
1)      Problema untuk mengetahui status dan mendeskripsikan fenomena
2)      Problema komparasi, problema yang bertujuan untuk membandingkan dua fenomena atau lebih
3)      Problema untuk mencari hubungan antara dua fenomena yang kedudukannya sejajar (bukan merupakan sebab akibat)
4)      Problema untuk melihat pengaruh sesuatu treatment atau ingin melihat variabel bebas dengan variabel terikat.
Sebagai tambahan penjelasan, yang dimaksud dengan data yang diterapkan dalam perhitungan adalah data yang disesuaikan dengan jenis data, yakni diskrit, ordinal, interval dan ratio. Pemilihan terhadap rumus yang digunakan kadang-kadang disesuaikan dengan jenis data, tetapi ada kalanya peneliti menentukan pendekatan/rumus, kemudian data yang ada di ubah, disesuaikan dengan rumus yang sudah dipilih.
Adapun caranya, sudah dijelaskan dibagian terdahulu, ketika membicarakan jenis data. Bagi peneliti yang menyukai statistik, bab ini menyajikan berbagai rumus yang dapat digunakan untuk mengolah data. Apabila peneliti berkeinginan untuk menggunakan jasa komputer, sebetulnya tinggal menyerahkan data yang diperoleh pada pengolah data, dan tinggal menunggu hasilnya. Namun demikian, buta sama kali rumus juga kurang disegyogyakan bagi peneliti yang menghendaki kepuasan batin dan mantap disebut sebagai peneliti. Dengan demikian meskipun sudah menyerahkan pengolahan datanya kepada operator komputer, sebaiknya tetap mencermati rumus-rumus yang disajikan dalam buku ini, sehingga ketika akan maju tidak ragu-ragu, dan apabila ada penguji yang bertanya tentang analisis yang digunakan, dapat dijelaskan secara mantap. Maju ujian dengan mantap ibarat tentara yang maju perang tanpa ragu menghadapi musuh.
C.     Tekhnik Analisis Data (Statistik Deskriptif dan Statistik Inferensial)
A. Statistik Deskriptif
1.      Pengertian Statistik Deskriptif
Statistik Deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.[4]
Pada statistik deskriptif ini, akan dikemukakan cara-cara penyajian data, dengan tabel biasa maupun distribusi frekuensi; grafik garis maupun batang; diagram lingkaran; pictogram; penjelasan kelompk melalui modus, median, mean dan variasi kelompok melalui rentang dan simpangan baku.
2.      Penyajian Data
Setiap peneliti harus dapat menyajikan data yang telah diperoleh, baik yang diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner (angket) maupun dokumentasi. Prinsip dasar penyajian data adalah komunikatif dan lengkap, dalam arti data yang disajikan dapat menarik perhatian pihak lain untuk membacanya dan mudah memahami isinya. Penyajian data yang komunikatif dapat dilakukan dengan: penyajian data dibuat berwarna, dan bila data yang disajikan cukup banyak, maka perlu bervariasi penyajiannya (tidak hanya dengan tabel saja).
Penyajian data dengan pictogram, (yang dapat menggambarkan realitas yang sebenarnya) merupakan penyajian data yang paling komunikatif, tetapi sulit membuatnya dan mahal. Tetapi setelah ada peralatan komputer, pembuatan pictogram dan berbagai model penyajian data menjadi sangat mudah menjadi masalah lagi.
Beberapa cara penyajian yang akan dikemukakan disini adalah: penyajian dengan tabel, grafik, diagram lingkaran dan pictogram.
1.   Tabel
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan tabel merupakan penyajian yang banyak digunakan, karena lebih efisien dan komunikatif. Terdapat dua macam tabel, yaitu tabel biasa dan tabel distribusi frekuensi.
Setiap tabel, berisi judul tabel setiap kolom, nilai data dalam setiap kolom, dan sumber data darimana data tersebut diperoleh. Contoh-contoh penyajian dengan tabel biasa ditunjukkan kepada tabel 2.1 yang merupakan tabel dengan data nominmal; tabel 2.2 dengan data ordinal, dan tabel 2.3 merupakan dengan data interval.
2.   Tabel Distribusi Frekuensi
Tabel distribusi frekuensi disusun bila jumlah data yang akan disajikan cukup banyak, sehingga kalau disajikan dalam tabel biasa menjadi tidak efisien dan kurang komunikatif, selain itu, tabel ini juga dibuat untuk persiapan pengujian terhadap normalitas data yang menggunakan kertas peluang normal.
3.   Grafik
Selain dengan tabel, penyajian data yang cukup populer dan komunikatif adalah dengan grafik. Pada umumnya terdapat dua macam grafik yaitu: grafik garis atau polygon dan grafik batang atau histogram. Grafik batang ini dapat dikembangkan lagi menjadi grafik balok atau tiga dimensi. Suatu grafik selalu menunjukkan hubungan antara: jumlah: dengan variabel lain, misalnya waktu.
4.   Diagram Lingkaran (Piechart)
Cara lain untuk menyajikan data hasil penelitian adalah dengan diagram lingkaran (piechart). Diagram lingkaran digunakan untuk membandingkan data dari berbagai kelompok.
5.   Pictogram (Grafik Gambar)
Adakalanya supaya data yang disajikan lebih komunikatif, maka penyajian data dibuat dalam bentuk pictogram.
B.  Statistik Inferensial
1.      Pengertian Statistik Inferensial
Jika penelitian dimaksudkan untuk menganalisis hubungan antara variabel atau menguji hipotesis asosiasi (korelasi), analisis yang digunakan ialah analisis statistika inferensial (statistik induktif). Horvath mendefinisikan statistik inferensial sebagai berikut:
“Inferential statistic is the body of rules and procedures by which general statements are made about people or events based on the obeservation of a relative few”.[5]
Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya akan digeneralisasikan/diinferensialkan kepada populasi dimana sampel diambil.
Ada dua pilihan penggunaan statistik inferensial, yaitu analisis parametrik dan analisis statistik non parametrik. Tentang uji statistik parametrik dan uji statistik nonparametrik, Horvath mengatakan sebagai berikut:
“ Parametic statistical test involve estimetion of or assumptions regarding parameters and assume certain characteristics of raw data distributions, usually normality of the dependent variable scores or of the sampling distribution of the statistic of interest. Nonparametric statistical test the not involve parameter estimation or depend on assumptions of normality or any other particular shape of the raw data distribution”.

 Statistik inferensial menurut Hovarth ada dua macam, yaitu:

v  Statistik Parametrik
Statistik Parametrik, yaitu ilmu statistik yang mempertimbangkan jenis sebaran atau distribusi data, yaitu apakah data menyebar secara normal atau tidak. Dengan kata lain, data yang akan dianalisis menggunakan statistik parametrik harus memenuhi asumsi normalitas. Pada umumnya, jika data tidak menyebar normal, maka data seharusnya dikerjakan dengan metode statistik non-parametrik, atau setidak-tidaknya dilakukan transformasi terlebih dahulu agar data mengikuti sebaran normal, sehingga bisa dikerjakan dengan statistik parametrik.
                        Contoh metode statistik parametrik:  
a. Uji-z (1 atau 2 sampel)
b. Uji-t (1 atau 2 sampel)
c. Korelasi pearson,
d. Perancangan percobaan (one or two-way anova parametrik), dll.
Ciri-ciri statistik parametrik:
                                    -   Data dengan skala interval dan rasio
                                    -   Data menyebar/berdistribusi normal
Keunggulan dan kelemahan statistik parametric:
Keunggulan:
·         Syarat syarat parameter dari suatu populasi yang menjadi sampel biasanya tidak diuji dan dianggap memenuhi syarat, pengukuran terhadap data dilakukan dengan kuat.
·         Observasi bebas satu sama lain dan ditarik dari populasi yang berdistribusi normal serta memiliki varian yang homogen.
Kelemahan:
·         Populasi harus memiliki varian yang sama.
·         Variabel-variabel yang diteliti harus dapat diukur setidaknya dalam skala interval.
·         Dalam analisis varian ditambahkan persyaratan rata-rata dari populasi harus normal dan bervarian sama, dan harus merupakan kombinasi linear dari efek-efek yang ditimbulkan.

v  Statistik Non-Parametrik
Statistik Non-Parametrik, yaitu statistik bebas sebaran (tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi, baik normal atau tidak). Selain itu, statistik non-parametrik biasanya menggunakan skala pengukuran sosial, yakni nominal dan ordinal yang umumnya tidak berdistribusi normal.
Contoh metode statistik non-parametrik:
a. Uji tanda (sign test)
b. Rank sum test (wilcoxon)
c. Rank correlation test (spearman)
d. Fisher probability exact test.
e. Chi-square test, dll.
Ciri-ciri statistik non-parametrik :
-    Data tidak berdistribusi normal
-    Umumnya data berskala nominal dan ordinal
-    Umumnya dilakukan pada penelitian sosial
-    Umumnya jumlah sampel kecil
Keunggulan dan kelemahan statistik non-parametrik : 
·         Tidak membutuhkan asumsi normalitas.
·          Secara umum metode statistik non-parametrik lebih mudah dikerjakan dan lebih mudah dimengerti jika dibandingkan dengan statistik parametrik  karena ststistika non-parametrik tidak membutuhkan perhitungan matematik yang rumit seperti halnya statistik parametrik.
·         Statistik non-parametrik dapat digantikan data numerik (nominal) dengan jenjang (ordinal).
·         Kadang-kadang pada statistik non-parametrik tidak dibutuhkan urutan atau jenjang secara formal karena sering dijumpai hasil pengamatan yang dinyatakan dalam data kualitatif.
·         Pengujian hipotesis pada statistik non-parametrik dilakukan secara langsung pada pengamatan yang nyata.
·         Walaupun pada statistik non-parametrik tidak terikat pada distribusi normal populasi, tetapi dapat digunakan pada populasi berdistribusi normal.
Kelemahan:
·         Statistik non-parametrik terkadang mengabaikan beberapa informasi tertentu.
·         Hasil pengujian hipotesis dengan statistik non-parametrik tidak setajam statistik parametrik.
·         Hasil statistik non-parametrik tidak dapat diekstrapolasikan ke populasi studi seperti pada statistik parametrik. Hal ini dikarenakan statistik non-parametrik mendekati eksperimen dengan sampel kecil dan umumnya membandingkan dua kelompok tertentu. (Khairul Amal).












[1] Dra.Nurul Zuriah,M.S.i.2009.Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan.Jakarta:PT Bumi Aksara,hlm.198
[2] Dr.Husaini Usman,M.Pd.2004.Metodologi Penelitian Sosial.Jakarta:PT Bumi Aksara,hlm.86
[3]Prof.Dr.Suharsimi Arikunto.2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta:PT Renika Cipta,hlm.235
[4] Prof.Dr.Sugiyono.2014.Statistika Untuk Penelitian.Bandung:ALFABETA.Hlm,29.
[5] Dr.Ulber Silalahi, M.A.2010.Metode Penelitian Sosial.Bandung:PT REFIKA ADITAMA,hlm.337